Senin, 18 Agustus 2014

Dia Cahaya

Hari ini begitu cerah, disiang hari yang terik ini membuat orang enggan untuk keluar dari perlindungan rumah. Namun betapa indah langit diatas sana, berwarna biru terang dengan awan putih yang menyelimuti hampir sebagian birunya. Duduk diteras kos-kosan disiang yang panas ini membuat jemariku mulai menari untuk mengetik dan bercerita tantang seseorang kawan dalam perjalanan di kehidupanku ini. Aku ingin menamainya Cahaya. Alasannya, entah mengapa cahaya di siang ini menjadi salah satu penentu pemberian nama itu. Disamping itu, dia tidaklah seperti yang kalian bayangkan, bercahaya bagai malaikat atau bidadari dari surga. Tapi aku merasakan dia bercahaya, dan akan menuntutku keluar dari tempat gelap.
Awal pertemuan lumayan baik, kami bertemu, berkenalan dan menjadi dekat. Seiring waktu berjalan, kami semakin menjauh karena kami merasa tidak cocok satu sama lain. Tapi tidak bisa dipungkiri kami bersama namun aku merasa kami tidak bersama karena terhalang oleh suatu sekat yang tidak kupahami. Awal kisah aku tidak begitu menyukai sikapnya. Entah apa yang membuat dia begiu kasar, berani, blak-blakan, egois, keras kepala, dan bertingkah seakan-akan dia tidak suka kemunafikan. Semua itu seperti suatu munafik yang dimunafikan bagiku. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaan dan perkataannya sehingga terkadang aku dan orang-orang yang berada disekitarnya tidak jarang tersakiti. Tapi, itulah dia..
Suatu ketika kami berada dalam satu keluarga. Menjadi semakin dekat dan ketidak dekatanpun semakin aku rasakan. Aku merasa kami selalu bersaing, saling menjunjukkan bahwa siapa yang terbaik. Walau aku merasa aku selalu saja kalah darinya. Saat berbicara dia yang sudah sangat mahir dan berani, sementara aku yang sangat membosankan dan malas jika beradu mulut serta lebih sering mengalah. Kami seperti berlomba untuk mendapatkan perhatian dari keluarga yang lain.  Dan terkadang aku merasa sendirian.
Waktu berjalan dan waktu berganti. Semakin hari kami semakin dekat antara satu dan yang lain. Semakin hari semakin kami tahu bagaimana kepribadian satu sama lain. Kami sering menghabiskan waktu bersama dan semua itu memudarkan sekat antara kami dan ketika sekat itu telah hilang, aku baru menyadari bahw dia adalah anak yang benar-benar baik. Dia selalu berkata benar, dia sangat penurut terhadap orangtuanya, dia tidak suka kemunafikan, dia orang yang rajin belajar dan memang sangat pandai, dia ramah kepda setiap orang dan selalu membuat suasana menjadi menyenangkan, dia humoris dan mampu membuat kami tertawa terbahak-bahak. Walau sebenarnya pasti ada sisi negatif yang ada pada dirinya, tapi aku ingin tetap melihat dia sebagai cahaya. Aku yakin dia akan memberikan terang dalam gelapku. Aku ingin dia sebagai contoh agar aku bisa menjadi anak yang lebih baik lagi. Aku ingin belajar darinya. Tentang keberaniannya, ketegasannya, kepandaiannya dan kepatuhannya terhadap orangtuanya serta semua hal posifit yang dia miliki. Semoga dia bisa jadi pemicu bagi diriku agar bisa bergerak sepertinya bahkan lebih baik lagi darinya.
Terimakasih cahaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar